Ariga Biola 12/08/2011. Di aceh tengah terdapat beberapa seniman yang telah menuangkan ide-ide cemerlang mereka demi memajukan kesenian di aceh tengah khususnya dan provinsi aceh umumnya. Salah satu sosok seniman Aceh Tengah yaitu Ibrahim Kadir, seorang tokoh seniman yang telah dikenal baik local, nasional bahkan internasional. Karena sosok Ibrahim adalah salah satu figur budayawan/ seniman yang sangat mencintai budaya lokalnya dengan karya seni hasil dari kreatifitasnya.
Ibrahim kadir memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan seniman Aceh lainnya. Berbagai karya seni yang dilahirkan memiliki keunikan, yang disebabkan oleh kejujuran, idealismenya. Sehingga dalam pergaulan sesama seniman beliau terkenal dengan sifat kepolosan dan tidak menonjolkan dirinya (egoistic) sebagai seorang seniman. Keunikan seorang Ibrahim Kadir juga dapat dideskripsikan melalui perjalanan hidupnya bahwa beliau pernah di penjara karena dituduh sebagai PKI di tahun 1966.
Sejumlah karya-karyanya telah memperkaya sastra Gayo. Intensitas dan aktivitasnyapun tidak pernah berhenti sampai usia tua, sehingga namanya dikenal luas oleh masyarakat seni nasional dan internasional. Ia telah menciptakan tidak kurang dari 85 puisi berbahasa Gayo sejak tahun 1953. Ia juga aktor bermain dalam film “Tjoet Nja' Dhien” (1990, Sutradara Eros Djarot), “Puisi Tak Terkuburkan” (2000, Sutradara Garin Nogroho), film dokumenter “Penyair Dari Negeri Linge” (2001, sutradara Aryo Danusiri). Ibrahim Kadir yang bermain sebagai tokoh penyair dalam film “Puisi Tak Terkuburkan” berhasil mendapatkan penghargaan “Silver Screen Award For Best Asian Actor” pada Festival Film Singapura 2001, dan “The Best Actor” dalam Festival Film Cinefan India 2001, serta penghargaan pemeran terbaik ke 2 dalam Festival Film Jokarno Italia 2000. Sosok yang dimaksud disini yaitu Ibrahim Kadir.
Ibrahim Kadir lahir di Kemili, Takengon, pada tanggal 31 Desember 1942 atau usia beliau saat ini lebih kurang 68 tahun adalah seniman, penyair, koreografer, dan aktor yang berasal dari Tanah Gayo, Aceh Tengah. Ibrahim Kadir juga dikenal sebagai kreografer tari masal Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-12 Tingkat Nasional di Banda Aceh 1981, Koreografer MTQ Tingkat Provinsi Aceh 1979, serta penulis dan designer tari masal di Padang Sumatera Barat 1983. Ia menulis buku panduan tentang Tari Guel (1989), dan buku pegangan dosen tentang metode mengajar dan menata tari di Universitas Sumatera Utara.
Puisi-puisi Ibrahim Kadir terhimpun dalam “Kumpulan Puisi Gayo-Indonesia” 1971, “Datu Beru” (Didong Puisi), “Gentala” (antologi Puisi 1972), “Malem Dewa” (antologi Puisi, 1973) dan “Pembangunan Pesantren Nurul Islam Dalam Untaian Puisi Gayo-Indonesia” tahun 2000.
Saat ini Ibrahim Kadir sedang mempersiapkan skenario film yang diberi judul “Tangan Tanpa Jemari,” sejumlah adegan tengah dalam proses pengambilan gambar. Beberapa buku Ibrahim Kadir yang dalam proses cetak adalah; “Sebuku” (seni meratap Gayo), “Nasib Ukiran Gayo, Cerita Rakyat Gayo-Indonesia, Melengkan, Pantun Gayo, Kekitiken, Saer-saer Gayo” dan sejumlah buku lainnya.









javascript:BLOG_CMT_subscription.toggle()
ReplyDelete